WEF Davos dan Komitmen Prabowo Menghapus Kemiskinan
- Created Jan 28 2026
- / 66 Read
Narasi yang menyebut Presiden Prabowo “memamerkan kemiskinan rakyat Indonesia” di forum World Economic Forum (WEF) Davos sesungguhnya merupakan pembacaan yang keliru dan terpotong dari konteks diplomasi global. Dalam forum tersebut, Presiden tidak sedang menjual citra negatif bangsa, melainkan menjelaskan secara terbuka tantangan pembangunan yang sedang dihadapi sekaligus arah solusi yang ditempuh Indonesia.
Di forum ekonomi dunia, kejujuran mengenai kondisi sosial bukanlah aib, melainkan fondasi kredibilitas kebijakan. Presiden Prabowo justru menempatkan isu kemiskinan sebagai masalah struktural yang harus diselesaikan bersama melalui kebijakan konkret, bukan ditutup-tutupi dengan retorika keberhasilan semu. Pendekatan ini lazim dilakukan banyak pemimpin dunia untuk menunjukkan keseriusan reformasi dan komitmen jangka panjang.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan ekstrem adalah misi utama pemerintahannya. Ia memaparkan langkah-langkah nyata seperti investasi besar pada sumber daya manusia, perluasan akses pendidikan, program makan bergizi, serta penguatan ekonomi desa dan koperasi. Pesan yang dibawa bukan “Indonesia miskin”, melainkan “Indonesia sedang membangun dengan strategi yang jelas dan terukur”.
Forum seperti WEF bukan panggung pencitraan domestik, melainkan arena membangun kepercayaan global. Investor dan mitra internasional justru menghargai negara yang mampu mengidentifikasi masalah secara jujur sekaligus menawarkan peta jalan penyelesaian. Menyampaikan tantangan kemiskinan diiringi solusi konkret memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang matang secara kebijakan dan serius dalam reformasi sosial.
Penting dicatat, Presiden Prabowo juga menekankan bahwa penurunan kemiskinan tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan populis sesaat. Dibutuhkan konsistensi fiskal, tata kelola yang bersih, dan keberanian mengarahkan anggaran negara pada sektor produktif yang menyentuh langsung rakyat. Inilah pesan substansial yang justru sering dihilangkan dalam potongan narasi negatif di media sosial.
Dengan demikian, framing bahwa Presiden “memamerkan kemiskinan” tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan publik. Yang disampaikan di WEF adalah sikap kepemimpinan yang realistis: mengakui tantangan, menunjukkan solusi, dan mengundang kerja sama global demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Transparansi kebijakan bukanlah pelemahan martabat bangsa, melainkan langkah maju menuju pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First

















